Tuesday, October 28, 2014

Dreams : Sebuah esensi




"Adek cita-citanya mau jadi apa?"

"Jadi doktel kan dede pintel"

"Aamiin, ayo makan ya biar sehat"

"Kalo kakak cita-citanya apa?"

"Pilot."

Budaya yang seringkali terjadi di Indonesia, ketika anak ditanyakan cita-cita maka ia akan menjawab profesi. Padahal profesi adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan etika khusus profesi (Doni Kosoema, dengan gubahan). Pekerjaan biasanya diapakai orang awam dan sepenuhnya tidak memerlukan keterampilan baku. Jadi, pekerjaan belum tentu disebut profesi.

Kalau arti cita-cita dalam KBBI adalah [n] (1) keinginan (kehendak) yang selalu ada di pikiran : ia berusaha mencapai~nya untuk menjadi petani yang baik; (2) tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan : untuk mewujudkan ~ nasional kita, kepentingan pribadi harus dikesampingkan.

Cita-cita mempunyai makna yang dalam. Didalamnya ada kehendak moral. Ini ceritanya, sehabis mengikuti Dauroh Marhalah (DM) KAMMI "Islamic Youth Forum" seorang pembicara, Bang Arif nge-brainstorming kita supaya sadar kalo cita-cita bukan profesi. Kalau cita-cita itu misalnya memberikan kebaikan kepada bangsa. Itu gambaran luasnya. Contohnya coba kita lihat pak Hatta "apakah ia bercita-cita menjadi presiden dulunya?", pun dengan Soekarno. Adapun presiden merupakan hasil dari cita-citanya. Maka misalnya seorang dokter yang memiliki cita-cita adalah dokter yang dermawan.

Lanjutnya, quote bagus dari Bang Arif:

"Orang besar adalah yang berbicara tentang ide dan gagasan, orang kecil adalah yang ngomongin orang, orang kerdil adalah orang yang berbicara tentang dirinya sendiri"


Sistem pendidikan di Indonesia membawa kita menjadi orang yang kurang inisiatif, kurang percaya diri dan kurang mandiri misalnya dengan mendengar penjelasan guru semata. Terlebih watak terjajah yang masih membekas. Walaupun sebenarnya guru sudah mengajak siswa untuk proaktif. Kembali ke siswanya lagi dan pada akhirnya kesemuanya harus saling bersinergi.

Guru dan orang tua adakalanya harus melepas anaknya untuk bebas menemukan potensi terbaik mereka atau berperan sebagai fasilitator.

Padahal kalau di sebuah negara di luar sana, seorang murid menulis tanpa henti sambil mengangkat tangan kirinya karena tidak mau tertinggal mencatat dan bertanya kepada gurunya. 

Pada akhirnya, sebaiknya pendidikan lebih mengutamakan mental, moral, dan karakter yang semuanya terangkum dalam akhlak (celoteh mbak niken). Akhlak membawa seseorang ingin melakukan kebaikan secara sadar. Jadi ketika anak didik sudah sadar maka proses pembelajaran dua arah menjadi lebih efektif dan mengantarkan anak-anak memilih cita-cita yang mulia.


"Remember when, (lagi jamannya film michelle zuidith dan miqdad addausy nih **salah fokus**)
we saying a lot about our dreams, we stared into each other eyes,smiled, to believe that we can reach that, someday."  

No comments:

Post a Comment