Saturday, January 02, 2016

Two Side of Tobacco


Telapak tangan mempunyai dua sisi yaitu atas dan bawah atau hitam dan putih. Begitu pula dengan tembakau. Tembakau, komoditi yang sebaran petaninya terdapat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, NTT ini mempunyai sisi positif dan negatif. Hal tersebut merupakan kesimpulan dari Seminar Nasional “Hitam Putih Pertembakauan di Indonesia” pada 21/11/2015 di Universitas Jember.
Pertumbuhan tembakau di Indonesia menjadi penting untuk ditelisik lebih lanjut. Mulai dari tahun 1970 perluasan lahan tembakau meningkat secara fluktuatif dengan rata-rata sekitar 3,23%. Indonesia merupakan negara dengan pengguna rokok terbesar ketiga di dunia.Kemudian pengguna tembakau yang merokok di Indonesia atau perokok aktif adalah 97% yaitu sebesar 61 juta orang. Sedangkan perokok pasif menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 sekitar 91 juta orang. Tembakau menyumbang kematian sebanyak 235.000 orang
Kembali pada sisi positif dan negatif tembakau. Sisi positifnya menurut Ir. Desak Nyoman Siksiawati MMA yang merupakan Kepala UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang Lembaga Tembakau (UPT PSMB-LT) adalah tembakau merupakan penghasil cukai kedua setelah migas yaitu 113 triliun dan Indonesia, penghasil tembakau terbesar keenam di dunia.  Selain itu diversifikasi produk dari tembakau yang bervariasi yaitu minyak atsiri, antioksidan, pupuk, pestisida, kosmetik, parfum, neophytadiene (anti bakteri). Tembakau dapat digunakan sebagai terapi nanubalur yaitu dengan memberikan partikel asap rokok pada bagian tubuh yang sakit gunanya untuk menghilangkan radikal bebas. Penyakit yang bisa diterapi yaitu stroke, migrain, vertigo, dan plak di otak dihilangkan sampai ukuran partikel nano. Namun disayangkan manfaat tembakau ini masih sekedar campaign dan belum disosialisasikan secara luas terutama kepada petani.
Sisi negatifnya dijelaskan oleh dr. Tiffany Tiara, Subdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif Kementrian Kesehatan. Faktanya, prevalensi merokok dalam kurun waktu 15 tahun terakhir terus meningkat, perubahan penyakit dari PM menuju PTM. Selain itu menurut Global Youth Tobacco Survey, 69% orang melihat perokok di sekolah. Apabila kematian banyak terjadi pada rentang umur ini sangat memprihatinkan karena merupakan usia produktif.
Hal unik disampaikan oleh Hary Yuswadi terkait rokok adalah budaya. Khususnya petani Jember merasakan bahwa memanen tembakau sebagai irama kehidupan, seperti satu kesatuan dari bangun tidur, mandi, makan, memanen, sampai tidur lagi. Hal itu ditandai juga dengan tarian khas Jember yaitu tarian Lahbako yang berarti mengolah tembakau. Selanjutnya kehidupan 21.000 wanita di Jember berkaitan langsung dengan tembakau. Oleh karena itu tembakau menjadi pola pikir dan sistem budaya. Lanjutnya untuk mengubah hal tersebut perlu dihilangkan nilai kecantikan dan estetika dari tembakau atau mengganti dengan tren lain namun membutuhkan proses dan waktu yang lama. Adapun tembakau dilihat dari aspek ekonomi, menurutnya menghilangkan moralitas ekonomi (James Scott) yang seharusnya menghilangkan resiko, prinsip selamat dan kepuasan bukan lagi hanya berdasarkan untung rugi.
Pembicara lainnya adalah Dr Kartono Muhammad, Penasehat Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (KOMNAS-PT) yang menyatakan tidak sinkronnya kebijakan tembakau di Rancangan Undang-Undang Pertembakauan dengan kebijakan lain seperti UU Kesehatan dan telah menolak RUUP. Hal tersebut menandai tumpang tindihnya kebijakan.
Selain sisi positif dan negatif, petani tembakau mempunyai andil penilaiannya pada tembakau. Berdasarkan hasil wawancara, petani Jember mengalami kerugian sejak tahun 2011. Ketika mengalami keuntungan sampai 100% namun tidak dirasakan lagi di tahun 2015 ini. Pada panen terakhir modalnya sekitar 100 juta namun yang kembali hanya 60 juta. Kerugian yang dialami sampai 40%. Kerugian tersebut ditambal sampai tahun berikutnya. Hal ini dialami oleh sebagian besar petani yang ditemui. Adanya pengaturan harga dari pemegang pasar atau “tengkulak” tidak banyak memihak terhadap nasib petani. Keluhan lainnya dari petani adalah banyaknya pemasok yang lebih memilih impor terutama dari Cina karena dengan harga yang sama kualitas mereka lebih baik dan bersih. Yang menjadi pertanyaan apakah pekerjaan sebagai petani tembakau masih layak dipertahankan? Tetapi bagi mereka hal itu merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan dan merupakan kebiasaan. Mahasiswa pun menawarkan untuk pemilihan komoditi lain dan advokasi kepada pemerintah.
Tembakau yang “hampir” menjadi budaya dan terstrukturisasinya lembaga tembakau di Jember menjadi kekuatan eksistensi tembakau di Jember. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa mutu rokok diuji dan mutu dipilih sampai pada kualitas ekspor? Untuk peningkatan devisa negara? Bagaimana sebenarnya keberpihakan lembaga pemerintah, apakah kepada petani? Bisakah diversifikasi tembakau diproduksi secara massal yang selanjutnya hasilnya dijadikan perencanaan keuangan dari keuntungan diversifikasi? Apakah salah satu produk diversifikasi menjadi tren melebihi rokok? Apakah dapat mengentaskan masalah kesehatan sampai kematian akibat rokok? 

Sumber : WHO, Riskesdas, FE UI, dan sumber lainnya


Toyyibah Akhmadi
P2K ISMKMI Wilayah 2

No comments:

Post a Comment