Telapak
tangan mempunyai dua sisi yaitu atas dan bawah atau hitam dan putih. Begitu
pula dengan tembakau. Tembakau, komoditi yang sebaran petaninya terdapat di
Sumatera, Jawa, Kalimantan, NTT ini mempunyai sisi positif dan negatif. Hal
tersebut merupakan kesimpulan dari Seminar Nasional “Hitam Putih Pertembakauan
di Indonesia” pada 21/11/2015 di Universitas Jember.
Pertumbuhan
tembakau di Indonesia menjadi penting untuk ditelisik lebih lanjut. Mulai dari
tahun 1970 perluasan lahan tembakau meningkat secara fluktuatif dengan rata-rata sekitar 3,23%.
Indonesia merupakan negara dengan pengguna rokok terbesar ketiga di dunia.Kemudian
pengguna tembakau yang merokok di Indonesia atau perokok aktif adalah 97% yaitu
sebesar 61 juta orang. Sedangkan perokok pasif menurut Riset Kesehatan Dasar
tahun 2007 sekitar 91 juta orang. Tembakau menyumbang kematian sebanyak 235.000
orang
Kembali
pada sisi positif dan negatif tembakau. Sisi positifnya menurut Ir. Desak
Nyoman Siksiawati MMA yang merupakan Kepala UPT Pengujian Sertifikasi Mutu
Barang Lembaga Tembakau (UPT PSMB-LT) adalah tembakau merupakan penghasil cukai
kedua setelah migas yaitu 113 triliun dan Indonesia, penghasil tembakau
terbesar keenam di dunia. Selain itu diversifikasi
produk dari tembakau yang bervariasi yaitu minyak atsiri, antioksidan, pupuk,
pestisida, kosmetik, parfum, neophytadiene
(anti bakteri). Tembakau dapat digunakan sebagai terapi nanubalur yaitu dengan
memberikan partikel asap rokok pada bagian tubuh yang sakit gunanya untuk
menghilangkan radikal bebas. Penyakit yang bisa diterapi yaitu stroke, migrain,
vertigo, dan plak di otak dihilangkan sampai ukuran partikel nano. Namun
disayangkan manfaat tembakau ini masih sekedar campaign dan belum disosialisasikan secara luas terutama kepada
petani.
Sisi
negatifnya dijelaskan oleh dr. Tiffany Tiara, Subdit Pengendalian Penyakit
Kronis dan Degeneratif Kementrian Kesehatan. Faktanya, prevalensi merokok dalam
kurun waktu 15 tahun terakhir terus meningkat, perubahan penyakit dari PM
menuju PTM. Selain itu menurut Global Youth Tobacco Survey, 69% orang melihat
perokok di sekolah. Apabila kematian banyak terjadi pada rentang umur ini
sangat memprihatinkan karena merupakan usia produktif.
Hal
unik disampaikan oleh Hary Yuswadi terkait rokok adalah budaya. Khususnya
petani Jember merasakan bahwa memanen tembakau sebagai irama kehidupan, seperti
satu kesatuan dari bangun tidur, mandi, makan, memanen, sampai tidur lagi. Hal
itu ditandai juga dengan tarian khas Jember yaitu tarian Lahbako yang berarti
mengolah tembakau. Selanjutnya kehidupan 21.000 wanita di Jember berkaitan
langsung dengan tembakau. Oleh karena itu tembakau menjadi pola pikir dan
sistem budaya. Lanjutnya untuk mengubah hal tersebut perlu dihilangkan nilai
kecantikan dan estetika dari tembakau atau mengganti dengan tren lain namun
membutuhkan proses dan waktu yang lama. Adapun tembakau dilihat dari aspek ekonomi,
menurutnya menghilangkan moralitas ekonomi (James
Scott) yang seharusnya menghilangkan resiko, prinsip selamat dan kepuasan
bukan lagi hanya berdasarkan untung rugi.
Pembicara
lainnya adalah Dr Kartono Muhammad, Penasehat Komisi Nasional Pengendalian
Tembakau (KOMNAS-PT) yang menyatakan tidak sinkronnya kebijakan tembakau di
Rancangan Undang-Undang Pertembakauan dengan kebijakan lain seperti UU
Kesehatan dan telah menolak RUUP. Hal tersebut menandai tumpang tindihnya
kebijakan.
Selain
sisi positif dan negatif, petani tembakau mempunyai andil penilaiannya pada
tembakau. Berdasarkan hasil wawancara, petani Jember mengalami kerugian sejak tahun
2011. Ketika mengalami keuntungan sampai 100% namun tidak dirasakan lagi di
tahun 2015 ini. Pada panen terakhir modalnya sekitar 100 juta namun yang
kembali hanya 60 juta. Kerugian yang dialami sampai 40%. Kerugian tersebut
ditambal sampai tahun berikutnya. Hal ini dialami oleh sebagian besar petani
yang ditemui. Adanya pengaturan harga dari pemegang pasar atau “tengkulak”
tidak banyak memihak terhadap nasib petani. Keluhan lainnya dari petani adalah
banyaknya pemasok yang lebih memilih impor terutama dari Cina karena dengan
harga yang sama kualitas mereka lebih baik dan bersih. Yang menjadi pertanyaan
apakah pekerjaan sebagai petani tembakau masih layak dipertahankan? Tetapi bagi
mereka hal itu merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan dan merupakan
kebiasaan. Mahasiswa pun menawarkan untuk pemilihan komoditi lain dan advokasi
kepada pemerintah.
Tembakau
yang “hampir” menjadi budaya dan terstrukturisasinya lembaga tembakau di Jember
menjadi kekuatan eksistensi tembakau di Jember. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa
mutu rokok diuji dan mutu dipilih sampai pada kualitas ekspor? Untuk
peningkatan devisa negara? Bagaimana sebenarnya keberpihakan lembaga pemerintah,
apakah kepada petani? Bisakah diversifikasi tembakau diproduksi secara massal
yang selanjutnya hasilnya dijadikan perencanaan keuangan dari keuntungan
diversifikasi? Apakah salah satu produk diversifikasi menjadi tren melebihi rokok?
Apakah dapat mengentaskan masalah kesehatan sampai kematian akibat rokok?
Sumber : WHO,
Riskesdas, FE UI, dan sumber lainnya
Toyyibah Akhmadi
P2K ISMKMI Wilayah 2
P2K ISMKMI Wilayah 2

No comments:
Post a Comment