Monday, May 19, 2014

Jalan Impian


Kadang apa yang nampak tak sama dengan yang tersembunyi

Entah itu baik atau buruk bisa saja terbolak-balik antara kedua dimensi

Sekali, dua kali, tiang kepura-puraan semakin menggencarkankan langkahnya

Membutakan si hitam dan putih

Sampai tiba saatnya sebuah titik terlihat jelas

Titik semu dan tak hingga yang tidak dapat membalikkan semuanya kembali seperti semula

Pada awalnya senyum kepongahanlah yang membutakan jalan itu

Jalan lurus.

Hati meyakini,  mulut berdusta, kaki-tangan berkhianat

Irelevan . Munafik. Rapuh

Siapa yang lebih kau takuti sebenarnya?

Hmm.

Jawabannya tentu sangat jelas.

Bunuh sekarang semua rasa itu.

Rasa yang mengkabut menghalangi jejak melangkah

Atau kau hendak membiarkan kabut itu menebal?

Tidak

Sekali-kali tidak.

Kau tidak sendiri sayang.

Rahmat Maha Besar yang selalu menggenggammu.

Melalui jejaring yang banyak dan berliku-liku

Sadar atau tidak sadar.

Lagipula mayoritas tidak dapat menjamin segalanya.

Karena kadang nafsu  dan perasaan sesaat yang lebih memperlihatkan taringnya.

Naluri alamiah kami.

Di sisi lain, secara alamiah integritas bersama menguatkan cangkangnya.

Yang diselimuti rahmat dan ridho-Nya.

Membangkitkan jiwa yang berkabut bahkan mati.

Kata permintaan tak ditemukan dalam daftar pencariannya.

Karena sesungguhnya kata kebutuhan yang mencuat dan mengakar.

Relung-relung jiwa bersatu.

Melangkah.

Membangkitkan.

Melagukan harmoni.

Yakin.

Titik balik itu dekat.

Fitrah kami pun haus.

Ingin tersemat  menuju  jalan yang membentang cerah. 

Jalan lurus,

Jalan Impian.




No comments:

Post a Comment