
Kadang apa yang nampak tak sama dengan yang tersembunyi
Entah itu baik atau buruk bisa saja terbolak-balik antara
kedua dimensi
Sekali, dua kali, tiang kepura-puraan semakin menggencarkankan
langkahnya
Membutakan si hitam dan putih
Sampai tiba saatnya sebuah titik terlihat jelas
Titik semu dan tak hingga yang tidak dapat membalikkan
semuanya kembali seperti semula
Pada awalnya senyum kepongahanlah yang membutakan jalan itu
Jalan lurus.
Hati meyakini, mulut
berdusta, kaki-tangan berkhianat
Irelevan . Munafik. Rapuh
Siapa yang lebih kau takuti sebenarnya?
Hmm.
Jawabannya tentu sangat jelas.
Bunuh sekarang semua rasa itu.
Rasa yang mengkabut menghalangi jejak melangkah
Atau kau hendak membiarkan kabut itu menebal?
Tidak
Sekali-kali tidak.
Kau tidak sendiri sayang.
Rahmat Maha Besar yang selalu menggenggammu.
Melalui jejaring yang banyak dan berliku-liku
Sadar atau tidak sadar.
Lagipula mayoritas tidak dapat menjamin segalanya.
Karena kadang nafsu
dan perasaan sesaat yang lebih memperlihatkan taringnya.
Naluri alamiah kami.
Di sisi lain, secara
alamiah integritas bersama menguatkan cangkangnya.
Yang diselimuti rahmat dan ridho-Nya.
Membangkitkan jiwa yang berkabut bahkan mati.
Kata permintaan tak ditemukan dalam daftar pencariannya.
Karena sesungguhnya kata kebutuhan yang mencuat dan
mengakar.
Relung-relung jiwa bersatu.
Melangkah.
Membangkitkan.
Melagukan harmoni.
Yakin.
Titik balik itu dekat.
Fitrah kami pun haus.
Ingin tersemat
menuju jalan yang membentang
cerah.
Jalan lurus,
Jalan Impian.
No comments:
Post a Comment